
1. sucikanlah
nama Tuhanmu yang Maha Tingi,
2.
yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),
3.
dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
4.
dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,
5.
lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.
6.
Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,
7.
kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan
yang tersembunyi.
8.
dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah[1571],
1. Tafsir Ayat 1
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk
mensucikan dan memuliakan nama Allah yang Maha Tinggi. Penekanan pada
"nama Tuhanmu" menunjukkan pentingnya menghormati dan memuliakan
Allah dalam semua aspek kehidupan.
1. .Tafsir Ayat 2
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
Ayat ini menegaskan kekuasaan Allah
dalam menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Allah tidak hanya
menciptakan, tetapi juga menyempurnakan penciptaan-Nya sehingga setiap makhluk
berada dalam keadaan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhannya.
1 Tafsir Ayat 3
وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى
Allah menentukan takdir setiap makhluk
dan memberikan petunjuk kepada mereka. Takdir dan petunjuk ini mencakup segala
sesuatu dari kehidupan fisik hingga aspek spiritual.
Tafsir Ayat 4
وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى
Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang
menjadi makanan bagi hewan dan manusia. Ini menunjukkan perhatian Allah
terhadap kebutuhan makhluk hidup.
3. Tafsir Ayat 5
فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى
Setelah tumbuh-tumbuhan mencapai puncak
kehidupannya, Allah menjadikannya kering dan kehitam-hitaman sebagai bagian
dari siklus kehidupan. Ini menggambarkan kebijaksanaan Allah dalam mengatur
alam.
4 Tafsir Ayat 6
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَى
Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad
akan diberikan kemampuan untuk mengingat dan menghafal Al-Qur'an. Ini adalah
jaminan dari Allah bahwa wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad akan dijaga
dan diingat dengan baik.
5 Tafsir Ayat 7
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ
الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى
Namun, ingatan ini bergantung pada
kehendak Allah. Dia mengetahui apa yang terang-terangan dan yang tersembunyi.
Ini menunjukkan kekuasaan mutlak Allah dalam semua hal.
6. Tafsir Ayat 8
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى
Allah memberikan jaminan bahwa Dia akan
memudahkan Nabi Muhammad dalam menjalankan tugas kerasulan dan menyampaikan
risalah Islam. Ini adalah dorongan dan penguatan bagi Nabi Muhammad.
7. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan
bahwa ayat-ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad untuk memuliakan
dan mensucikan Allah. Ibnu Katsir juga menekankan tentang kekuasaan Allah dalam
menciptakan dan mengatur segala sesuatu di alam semesta. Beliau merujuk pada
hadits-hadits dan perkataan sahabat untuk memperkuat tafsirnya.
8. Tafsir Al-Qurtubi
Al-Qurtubi menekankan bahwa mensucikan
Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang paling utama. Beliau juga
menjelaskan tentang proses penciptaan dan penyempurnaan oleh Allah, serta
pentingnya petunjuk yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.
9. Tafsir Jalalain
Dalam Tafsir Jalalain, Jalaluddin
Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti menjelaskan ayat-ayat ini secara singkat
namun padat. Mereka menekankan aspek-aspek kebesaran Allah dalam penciptaan dan
pengaturan alam semesta serta jaminan Allah terhadap ingatan Nabi Muhammad
terhadap wahyu yang diberikan.
10.Tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab
Quraish Shihab dalam tafsirnya,
Al-Misbah, memberikan penjelasan yang lebih kontekstual dan modern. Beliau
menekankan bahwa pujian kepada Allah harus disertai dengan kesadaran akan
kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan dan mengatur alam semesta.
Tafsir Al-Misbah juga membahas relevansi ayat-ayat ini dengan kehidupan
sehari-hari umat Islam.
Berikut penjelasan Tafsir al a'la berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ayyub Al-Gafiqi, telah menceritakan kepada kami pamanku Iyas ibnu Amir; ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir Al-Juhani mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Haqqah: 52; Al-Waqiah 74, 96) Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada kami: Jadikanlah bacaan ayat ini dalam rukuk kalian! Dan ketika turun firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Maka beliau Saw. bersabda kepada kami: Jadikanlah bacaan ayat ini dalam sujud kalian!
Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Ibnul Mubarak, dari Musa ibnu Ayyub dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Muslim Al-Batin, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. apabila membaca firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Maka beliau Saw. mengucapkan: Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.
Demikianlah menurut riwayat Imam Ahmad, dan Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Zuhair ibnu Harb, dari Waki' dengan sanad yang sama. Abu Daud mengatakan bahwa nama Waki' masih diperselisihkan, karena dalam riwayat lain disebutkan Abu Waki' dan Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari Sa'id, dari Ibnu Abbas secara mauquf.
As-Sauri telah meriwayatkan dari As-Saddi, dari Abdu Khair yang mengatakan bahwa aku pernah mendengar Ali membaca firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Lalu ia mengucapkan, "Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi."
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakam, dari Anbasah, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, bahwa Ibnu Abbas apabila membaca firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Maka ia mengucapkan, "Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi." Dan apabila membaca firman-Nya: Aku bersumpah dengan hari kiamat. (Al-Qiyamah: 1) dan bacaannya sampai pada ayat terakhirnya, yaitu firman Allah Swt: Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Al-Qiyamah: 40) Maka ia mengucapkan, "Mahasuci Engkau, dan tidaklah demikian (sebenarnya Engkau berkuasa untuk itu)."
Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Diceritakan kepada kami bahwa Nabi Saw. apabila membaca ayat ini, maka beliau mengucapkan, "Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi."
Firman Allah Swt.:
yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya). (Al-A'la: 2)
Yakni Dia telah menciptakan makhluk dan menyempurnakan setiap makhluk-Nya dalam bentuk yang paling baik. Allah SWT. berfirman:
dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (Al-A'la: 3)
Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang memberi petunjuk kepada manusia untuk celaka dan untuk bahagia, dan memberi petunjuk kepada hewan ternak untuk memakan makanannya di padang-padang tempat penggembalaannya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam kisah Musa a.s. yang berkata kepada Fir'aun:
Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (Thaha: 50)
Allah Swt. telah menentukan kadar bagi makhluk-Nya dan memberi mereka petunjuk kepada takdirnya. Sebagaimana pula yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar-kadar bagi semua makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jangka waktu lima puluh ribu tahun, dan adalah 'Arasy-Nya masih berada di atas air.
Firman Allah Swt.:
dan yang menumbuhkan rumput-rumputan. (Al-A'la: 4)
Yakni semua jenis tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman.
Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. (Al-A'la: 5)
Menurut Ibnu Abbas, artinya kering dan berubah warnanya; dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian orang yang ahli dalam bahasa Arab (ulama Nahwu) mengatakan bahwa dalam kalimat ini terkandung taqdim dan takhir dan bahwa makna yang dimaksudnya ialah bahwa Tuhan Yang telah menumbuhkan rumput-rumputan, kemudian tampak hijau segar, lalu berubah menjadi layu berwarna kehitam-hitaman, sesudah itu menjadi kering kerontang. Kemudian Ibnu Jarir memberi komentar, bahwa sekalipun pendapat ini termasuk salah satu dari takwil makna ayat, tetapi tidak benar mengingat pendapat ini bertentangan dengan pendapat-pendapat ulama ahli takwil.
Firman Allah Swt.:
Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa. (Al-A'la: 6)
Hal ini merupakan berita dari Allah Swt. dan janji-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. bahwa Dia akan membacakannya kepadanya dengan bacaan yang selamanya dia tidak akan melupakannya.
kecuali kalau Allah menghendaki. (Al-A'la: 7)
Demikianlah menurut pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Qatadah mengatakan bahwa adalah Rasulullah Saw. tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.
Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan firman:Nya: maka kamu tidak akan lupa. (Al-A'la: 6) Ini mengandung makna talab; dan mereka menjadikan makna istisna berdasarkan pengertian ini ialah apa yang dijadikan subjek oleh nasakh. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa kamu tidak akan melupakan apa yang telah Kubacakan kepadamu kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dilupakan, maka janganlah kamu membiarkannya.
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (Al-A'la: 7)
Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya secara terang-terangan dan juga apa yang mereka sembunyikan dari ucapan dan perbuatan mereka. Tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.
Firman Allah Swt:
Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah. (Al-A'la: 8)
Artinya, Kami akan memudahkan kamu untuk mengerjakan perbuatan dan ucapan yang baik, dan Kami akan mensyariatkan kepadamu suatu hukum yang mudah, penuh toleransi, lurus, lagi adil, tidak ada kebengkokan padanya dan tidak ada beban dan tidak pula kesulitan.
Posting Komentar untuk "TAFSIR SURAH AL A'LA AYAT 1-8"